Senopati Pamungkas
by Arswendo Atmowiloto
Buku ini, buku pegangan saya, cerita yang ada dalam buku ini begitu lekat dalam pikiran dan perasaan saya. Sudah sejak kecil sih saya tahu buku ini, membaca pertama kali juga waktu remaja dulu. Dulu bentuknya masih novel per jilid, kalau ndak salah inget... sekitar 12 jilid.
Namun sekitar sepuluh tahun lalu, Gramedia menerbitkan ulang dalam bentuk satu buku utuh...dalam dua jilid, dibikin senopati pamungkas 1 dan senopati pamungkas 2.
Senopati Pamungkas 1 sih masuk akal tebelnya, masih bisa dibawa ke sana sini. Kalau yang buku ke dua, ampun, tebel amat, sudah ndak bisa ke bawa sana sini. Bacanya harus di meja atau di kasur sekalian.
Ceritanya sendiri berlatar belakang jaman kerajaan Singosari dan jelang berdirinya kerajaan Majapahit. Tokoh Utama bernama Upasara Wulung.
Tokoh ksatria yang jadi seorang yang penting dalam segala situasi kekacauan akhir singosari dan awal majapahit...
Roman asmara ada pada hubungan upasara dan gayatri, yang tidak terwujud, karena gayatri diambil sebagai istri oleh Raden Wijaya.
Jadilah, cerita asmara mereka bikin perasaaan teraduk aduk.
Namun asmara itu bukan jadi fokus utama buku ini, itu hanya bumbu bahwa seorang yang tough dan kuat sperti seorang upasara pun masih bisa jatuh perasaannya kepada perempuan yang tak dapat dimilikinya.
Genduk Tri, juga merupakan salah satu tokoh yang saya kagumi perannya dalam cerita ini. Berani, kuat, nekad, tapi masih ada kemanjaannya terhadap Upasara. Memendam rasa kepada Upasara, namun terwujud dalam bentuk kasih sayang persaudaraan.
Beberapa tokoh lain banyak mendapat peran penting dalam buku ini.
Namun. seperti biasa, roman asmara akan jadi bingkai manis sebuah cerita. Jadilah gayatri dan genduk tri jadi karakter yang tahu tahu nempel di benak saya.