Thursday, September 22, 2005

SEHARI DALAM HIDUP IVAN DENISOVICH

SEHARI DALAM HIDUP IVAN DENISOVICH
Alexander solzhenitsin
Judul asli: odin den” ivana denisovitcha
Diterjemahkan dari bahasa inggris , dengan judul buku One Day in the life of ivan denisovich oleh Max Hayward dan Ronald Hingley.
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya
Th 1976


Setelah berbulan-bulan, akhirnya selesai juga saya membaca buku ini. walaupun sebenarnya buku ini tidak terlalu tebal (142 hal), namun karena saya membaca buku ini jika hanya berada dalam mobil dan sedang dalam keadaan menunggu. Akhirnyalah buku ini jadi terlantar penyelesaiannya.
Di tengah tengah membaca buku ini, saya sempat menghabiskan dua buku lain yaitu pengakuan karya anton chekov serta Afghanistan di tengah masa perubahan. Tentu saja dua buku tersebut sudah selesai terlebih dulu.

Pada awalnya saya membaca buku ini, terasa membosankan. Belum dapat mendapatkan, apa sebenarnya yang akan jadi konflik utama di buku ini. Dengan setting penjara di masa Uni Sovyet masih menjadi Negara komunis terbesar, membuat cerita mengalir begitu lambat.
Buku ini menggambarkan kehidupan dalam barak tahanan tempat para tahanan politik harus bekerja sepanjang hari tanpa mengenal dingin udara, dan jatah makanan yang sangat terbatas.
Dengan pendahuluan yang begitu lambat dan membosankan, benar benar buku ini dapat dimasukkan dalam kelompok buku yang dibaca terakhir.
Bahkan kadang kadang sempat setiap kali membaca, saya harus mengulang beberapa halaman terakhir supaya ingat bagaimana cerita terakhir yang say abaca.

Setelah hampir setengah buku, baru saya tahu apa mau si penulis dalam cerita ini. ternyata, isi buku ini benar benar cerita tentang kejadian satu hari dari si ivan ini. benar benar hanya satu hari. Dari pagi hingga saat dia tidur di malam hari.

Baru setelah selesai membaca buku ini, saya jadi tahu kehebatan si pengarang. Hebat. Dia bisa menceritakan hanya satu hari kehidupan seseorang namun begitu detail dan rinci. Saya suka. Karena menunjukkan bahwa di pengarang tidak kehabisan bahan dalam menceritakan kegiatan satu hari si ivan.
Cerita satu hari dalam 142 halaman huruf ketikan kecil. Dan saya baru menyadari kekuatan si penulis setelah setengah buku itu saya baca. Setelah itu, buku itu kemudian jadi prioritas utama untuk saya selesaikan, dan bukan menjadi buku pengisi waktu tunggu.

Pengakuan

PENGAKUAN
Anton Chekov
Sekumpulan cerita pendek karya anton chekov
Diterjemahkan oleh Koesalah Soebagyo Toer

Buku ini menarik, untuk dibaca saat kita punya waktu. Segar. Namun isinya sebenarnya ingin menertawakan lingkungan sekelilingnya.
Dengan setting cerita kebanyakan tentang masyarakat Rusia menjelang abad XX, jadilah cerpen cerpen chekov ini kebanyakan bersifat sinisme dan sarkasme.

Kemunafikan, kecenderungan untuk memanipulasi orang lain, serta praktek penjilatan dan korupsi, adalah sebagian tema cerita pendek Anton Chekhov.

Sebenarnya ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita masyarakat Indonesia. Sebenarnya banyak yang hal di dalam cerpennya juga sedang terjadi di sekeliling kita. Tragis memang. Situasi awal abad XX, namun tetap terjadi dan terus berulang di masa sekarang. Entah kapan hal hal tersebut dapat berubah menjadi lebih baik lagi.

Sunday, August 07, 2005

THE GOD OF SMALL THINGS

THE GOD of SMALL THINGs
By ARUNDHATI ROY
(terj.): A. Rahartati Bambang Haryo
Penerbit Yayasan Obor Indonesia, 2002
Membaca buku ini, harus cermat. Kapan cerita terjadi saat itu. atau apakah itu cerita kilas balik dari si tokoh. Harus cermat. Itulah yang pasti saat membaca buku ini.
Saat awal membaca buku ini, aku sempat terhenyak. Ah, ini penerjemahnya kurang sip. Kurang sip dalam artian, aku merasa agak tak cocok dalam model terjemahannya.
Dengan sangat maklum sih tapi. Karena aku mengenal penerjemah adalah spesialis buku buku bahasa Perancis. Buku asterix dan obelix adalah buku buku yang diterjemahkan olehnya. Jadi sedikit banyak aku sedikit maklum dengan model bahasanya.
Mengapa begitu? Karena saya pernah membaca buku terjemahan dari pengarang India lain dengan sangat asyik dan terhanyut. Sepertinya, penerjemahnya dapat mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia dengan sangat pas. Dan gampang dimengerti. Lain halnya dengan buku ini.
Namun, membaca kata pengantar Melani Budianta saya jadi sedikit maklum. Karena menurut beliau, dalam bahasa Inggris saja buku ini butuh kecermatan dalam membacanya, apalagi menerjemahkannya dalam bahasa lain. Bagi pembaca yang levelnya biasa biasa saja dalam kemampuan bahasa Inggrisnya, harap siap selalu dengan kamus. Jadi, begitulah. Mengapa saya jadi maklum membaca terjemahan dari buku tersebut.
Membaca buku ini, membuat saya berpikir, lebih baik buku ini dibuat film layar lebar saja. Banyak cerita kilas baliknya yang sesaat membuat saya harus mencerna dengan baik. Karena dengan tanpa tanda apapun, tiba tiba cerita sudah mengalir mengisahkan masa lalu si tokoh. Pada awal cerita, saya sempat bingung, mengapa terjadi kilas balik langsung tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Namun, karena begitu seringnya model kilas balik langsung tersebut, lama kelamaan saya jadi bisa menggapai bagaimana maksud penulis.
Novel ini banyak bercerita tentang hal hal kecil dan hal sepele buat orang dewasa. Namun ternyata sesuatu yang kecil itu memiliki makna yang besar bagi anak kecil. Cerita dimulai dari perjalanan seorang Rahel dalam perjalanannya kembali ke India, setelah sempat menetap agak lama di Amerika. Nah, dalam perjalanannya tersebut, banyak kilas balik peristiwa saat Rahel masih kecil. Setiap persinggahan memiliki arti. Setiap titik memiliki arti. Semuanya berputar balik dan berputar terus menerus. Tanpa akhir.
Mengapa dapat saya katakana bahwa novel ini adalah tanpa akhir, karena bahkan sampai akhir ceritapun, cerita kilas baliklah yang mengakhirinya. Tanpa saya tahu mengapa dan bagaimana akhir kisah tokoh tokohnya.
Semua tentang kisah yang terpotong potong dan berulang alik. Padat berisi, jika kita tahu bagaimana keadaan politik India pada saat setting cerita itu terjadi.
Sungguh seorang pengarang yang pandai yang mengarang cerita tersebut. ia dapat merangkaikan berbagai peristiwa, dengan latar belakang keadaan India yang terjadi pada peristiwa tersebut berlangsung. Pembedaan kelas, pembedaan gender, style yang salah kaprah, dan sebagainya , dan sebagainya.
Kalau saja terjemahan dari buku tersebut dapat diungkapkan dengan lebih luwes, seluwes Aparajito dan Pater panchali yang pernah saya baca. Pastilah saya dapat dengan enjoy dan tanpa kernyit membaca buku tersebut.
Bagaimanapun, perlu diberi salut kepada penerjemahnya, karena sepertinya sangat sulit menerjemahkan buku tersebut.

Monday, February 28, 2005

TOTTO-CHAN, Gadis Cilik di Jendela

TOTTO-CHAN
Gadis Cilik di Jendela

By Tetsuko Kuroyanagi
Pt. gramedia pustaka utama, 2004
271 hal

Membaca buku ini membawa kita kembali teringat pada masa kecil saat kita awal bersekolah. Ada sedikit penyesalan, mengapa system pendidikan kita tidak membuat kita jadi orang yang mandiri, kreatif, berani, dan tidak abs.
Look, kita selalu berpatokan pada apa yang seharusnya anak baik dan pintar itu lakukan.
Buku ini akan mengajak kita agar melakukan reformasi system pendidikan, mengubah pemikiran tentang bagaimana berkomunikasi yang mendidik pada anak. Mendidik dalam artian, bisa membuat anak melakukan yang benar dan baik, karena memang begitu, bukan karena takut kepada orang yang lebih tua.

Mungkin di Indonesia saat ini ada beberapa sekolah yang mencoba dengan system tersebut. Namun bisa dilihat, berapa jumlahnya dan bagaimana dukungan public terhadap keberadaan mereka. Sebagian orang Indonesia, masih berorientasi pada, sekolah favorit, sekolah yang bisa meluluskan muridnya ke universitas negeri dalam jumlah banyak. Sekolah yang disiplinnya bagus.
Sekolah yang borjuis, berarti yang masuk orang kaya kaya, berarti anak orang kaya juga , berarti berteman dengan orang kaya, berarti networking untuk masa datang sudah ditabung sejak anak masih sekolah.
Ya begitulah.
Tak bisa kita harapkan lebih.

Ada juga sekolah yang berorientasi lapangan, di ciganjur, namun dapat dilihat, siapa yang dapat membayar biaya pendidikan relative tinggi tersebut.
Back to basic kan akhirnya?.. money money money

So,…. Sepertinya dunia totto chan hanya akan ada di khayalan saat ini. nah pinter pinternya orang tua berkomunikasilah, sehingga bisa meningkatkan kualitas anak dalam kehidupan sehari hari. Bukan hanya pada nilai nilai di sekolah.

Monday, January 24, 2005

Perempuan di titik nol

Membaca buku karya Nawaw el shadawi yang berjudul perempuan di titik nol, membangkitkan kesadaranku yang telah tertimbun lama. Kesadaran akan arti hidup bagi seorang perempuan.
(bersambung)