THE GOD of SMALL THINGs
By ARUNDHATI ROY
(terj.): A. Rahartati Bambang Haryo
Penerbit Yayasan Obor Indonesia, 2002
Membaca buku ini, harus cermat. Kapan cerita terjadi saat itu. atau apakah itu cerita kilas balik dari si tokoh. Harus cermat. Itulah yang pasti saat membaca buku ini.
Saat awal membaca buku ini, aku sempat terhenyak. Ah, ini penerjemahnya kurang sip. Kurang sip dalam artian, aku merasa agak tak cocok dalam model terjemahannya.
Dengan sangat maklum sih tapi. Karena aku mengenal penerjemah adalah spesialis buku buku bahasa Perancis. Buku asterix dan obelix adalah buku buku yang diterjemahkan olehnya. Jadi sedikit banyak aku sedikit maklum dengan model bahasanya.
Mengapa begitu? Karena saya pernah membaca buku terjemahan dari pengarang India lain dengan sangat asyik dan terhanyut. Sepertinya, penerjemahnya dapat mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia dengan sangat pas. Dan gampang dimengerti. Lain halnya dengan buku ini.
Namun, membaca kata pengantar Melani Budianta saya jadi sedikit maklum. Karena menurut beliau, dalam bahasa Inggris saja buku ini butuh kecermatan dalam membacanya, apalagi menerjemahkannya dalam bahasa lain. Bagi pembaca yang levelnya biasa biasa saja dalam kemampuan bahasa Inggrisnya, harap siap selalu dengan kamus. Jadi, begitulah. Mengapa saya jadi maklum membaca terjemahan dari buku tersebut.
Membaca buku ini, membuat saya berpikir, lebih baik buku ini dibuat film layar lebar saja. Banyak cerita kilas baliknya yang sesaat membuat saya harus mencerna dengan baik. Karena dengan tanpa tanda apapun, tiba tiba cerita sudah mengalir mengisahkan masa lalu si tokoh. Pada awal cerita, saya sempat bingung, mengapa terjadi kilas balik langsung tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Namun, karena begitu seringnya model kilas balik langsung tersebut, lama kelamaan saya jadi bisa menggapai bagaimana maksud penulis.
Novel ini banyak bercerita tentang hal hal kecil dan hal sepele buat orang dewasa. Namun ternyata sesuatu yang kecil itu memiliki makna yang besar bagi anak kecil. Cerita dimulai dari perjalanan seorang Rahel dalam perjalanannya kembali ke India, setelah sempat menetap agak lama di Amerika. Nah, dalam perjalanannya tersebut, banyak kilas balik peristiwa saat Rahel masih kecil. Setiap persinggahan memiliki arti. Setiap titik memiliki arti. Semuanya berputar balik dan berputar terus menerus. Tanpa akhir.
Mengapa dapat saya katakana bahwa novel ini adalah tanpa akhir, karena bahkan sampai akhir ceritapun, cerita kilas baliklah yang mengakhirinya. Tanpa saya tahu mengapa dan bagaimana akhir kisah tokoh tokohnya.
Semua tentang kisah yang terpotong potong dan berulang alik. Padat berisi, jika kita tahu bagaimana keadaan politik India pada saat setting cerita itu terjadi.
Sungguh seorang pengarang yang pandai yang mengarang cerita tersebut. ia dapat merangkaikan berbagai peristiwa, dengan latar belakang keadaan India yang terjadi pada peristiwa tersebut berlangsung. Pembedaan kelas, pembedaan gender, style yang salah kaprah, dan sebagainya , dan sebagainya.
Kalau saja terjemahan dari buku tersebut dapat diungkapkan dengan lebih luwes, seluwes Aparajito dan Pater panchali yang pernah saya baca. Pastilah saya dapat dengan enjoy dan tanpa kernyit membaca buku tersebut.
Bagaimanapun, perlu diberi salut kepada penerjemahnya, karena sepertinya sangat sulit menerjemahkan buku tersebut.
No comments:
Post a Comment