by Pramodya Ananta Toer,
merupakan buku terakhir dari tetralogi karya beliau.
Membaca Rumah Kaca kali ini, rada lumayan kontinyu, karena kebetulan lagi ada waktu longgar jeda antar proyek, sehingga dapat membaca buku ini dengan marathon.
Rumah Kaca tidak lagi terfokus pada cerita Minke, namun terfokus pada cerita seorang pegawai senior Gubernemen Belanda pensiunan komisaris polisi, asli manado, namun diangkat anak oleh orang perancis. Di situ diceritakan bahwa si tokoh, seorang Pangemanann, adalah orang yang ditugasi mengamati seluruh gerak gerak orang orang yang mulai bergerak untuk membuat manuver manuver politik. Semua orang yang mengkhawatirkan akan dibuang.
Disini diceritakan bagaimana proses pembuangan Minke, dan orang orang sesudah Minke yang membuat gerakan organisasi modern dan cukup mengkhawatirkan pemerintahan Hindia Belanda.
Betapa, seorang agen khusus spesial seperti Pangemanann ternyata sangat kotor dalam melakukan tugasnya. Ia dengan berbagai cara akan berusaha mendapatkan keterangan sebanyak banyaknya tentang tokoh yang diikutinya.
Tokoh tokoh yang ada dalam pengamatannya disebutnya dimasukkan ke dalam rumah kaca.
Rumah kaca yang dibuat oleh Pangemanann untuk mengamati setiap tokoh yang diikutinya.
Namun, pada akhirnya, karena tokoh utama dalam tetralogi ini adalah tetap Minke, maka ending dari buku ini pun berakhir pada saat minke meninggal dunia, dan akhirnya hal tersebut selalu menghantui Pangemanann sampai akhir hayatnya juga.
No comments:
Post a Comment